BAB II
PEMBAHASAN
A.
Ide
Awal Induksi Matematika
Induksi
matematika (mathematical induction) adalah metode pembuktian yang sering
digunakan untuk menentukan kebenaran dari suatu pernyataan yang diberikan dalam
bentuk bilangan asli. Akan tetapi sebelum membahas mengenai induksi matematika,
kita akan membahas suatu prinsip yang digunakan untuk membuktikan induksi
matematika, yaitu prinsip terurut rapi (well-ordering principle) dari
bilangan asli.
Induksi
matematika adalah suatu teknik yang sederhana, kuat dan bagus untuk membuktikan
berbagai pernyataan mengenai bilangan asli. Induksi matematika dikatakan
sederhana karena pemikiran yang mendasarinya bersifat intuitif dan menarik,
kuat karena penggunaannya yang luas, bagus karena menyajikan kerangka kerja
yang sama atau seragam untuk mempelajari sifat-sifat bilangan asli.
Untuk
lebih memahami induksi matematika, misalkan kita mempunyai lima anggota
bilangan yaitu 10, 5, 7, 3, 6. Pada langkah pertama kita membandingkan 10 dan 5
bilangan yang kecil adalah 5, kemudian angka 5 dibandingkan dengan 7 diperoleh
angka yang kecil adalah 5, 5 dibandingkan dengan angka ke empat yaitu 3 diperoleh
angka yang kecil 3 selanjutnya angka 3 dibandingkan dengan 6 dan yang lebih
kecil adalah 3. Dengan langkah ini bahwa 3 adalah bilangan terkecil dalam
daftar tersebut. Pada langkah kedua, kita menerapkan proses yang sama pada
daftar empat bilangan 10, 5, 7, 6dan
diperoleh bahwa 5 adalah angka terkecil. Dengan menerapkan proses yang sama pada
langkah-langkah berikutnya, akhirnya diperoleh daftar urutan : 3, 5, 6, 7, 10.
Hal
yang penting adalah keefisienan dari algoritma ini, yaitu sejumlah perbandingan
yang dibuat dalam pemilihan bilangan-bilangan tersebut. Banyaknya perbandingan
pada langkah pertama adalah n-1, pada langkah kedua adalah n-2dan seterusnya
hingga pada langkah akhir diperoleh perbandingannya adalah nol.
Jadi,
banyaknya perbandingan dalam pengurutan daftar dari n bilangan semula adalah
1+2+3+….+(n-1). Misalkan S(n)=1+2+…+n=
, sehingga kita mengetahui bahwa
S(n)=n+S(n-1).
Dalam
menentukan suatu rumus untuk S(n) ada dua persoalan utama, yaitu memperkirakan
suatu rumus dan membuktikan bahwa rumus tersebut adalah benar. Polya (1945)
memuat suatu pembahasan yang bagus tentang teknik yang digunakanuntuk
memperkiraan (menebak) rumus. Salah satu kemungkinan adalah dengan mengamati
suatu pola.
Suatu
permainan yang terdiri dari susunan kartu domino sedemikian hingga jatuhnya
domino yang pertama, mengakibatkan raaksi berantai pada jatuhnya kartu domino
yang lain. Permainan sederhana ini membuat pemikiran dasar ” Prinsip Induksi
Matematika”. Dapat kita buktikan penyataan untuk setiap n jika kita menunjukkan
setiap domino bisa menjatuhkan semua domino. Bila domino bernomor k jatuh,
domino bernomor k+1 juga akan jatuh untuk setiap nilai k. jika dua
kondisi terpenuhi: (1) kartu domino yang pertama jatuh dan (2) jika kartu
domino ke k jatuh maka kartu domino ke k+1 juga jatuh. Jika kita
mengidentifikasi jatuhnya suatu domino tertentu dengan kasus percobaan yang
bersesuaian, maka pemikiran seperti ini menunjukkan dua hal. Pertama, bahwa
kasus pertama itu benar. Kedua, bahwa jika kasus k benar, maka kasus k+1 juga
benar. Karena tidak ada kasus khusus pada label kartu domino yang pertama, maka
kita peroleh “prinsip induksi matematika
lemah” dan ”prinsip induksi
matematika kuat”.
B.
Induksi
Matematika Lemah
Induksi Matematika
adalah cara standar dalam membuktikan bahwa sebuah pernyataan tertentu berlaku
untuk setiap bilangan asli. Pembuktian dengan cara ini terdiri dari dua
langkah, yaitu:
a.
Menunjukkan bahwa pernyataan itu berlaku
untuk bilangan n=1.
b.
Menunjukkan bahwa jika pernyataan itu
berlaku untuk bilangan n, maka pernyataan itu juga berlaku untuk bilangan n +
1.
Pada contoh ,
pengurutan P(n) merupakan suatu pernyataan bahwa S(n)=
.
Langkah pertama biasa disbut langkah dasar dan langkah kedua disebut
langkah induksi. Asumsipada langkah kedua yaitu bahwa kasus ke-k adalah benar
disebut hipotesis induksi. Bentuk induksi ini disebut betuk lemah karena
hipotesis induksi hanyamengasumsikan satu kasus sebelumnya.
Prinsip induksi
matematika merupakan akibat langsung dari definisi bilangan asli. Misalkan
suatu himpunan bilangan S yang mempunyai sifat:
a.
Bilangan asli qada di dalam S
b.
Jika bilangan asli k ada di dalam S maka
bilangan asli k+1 juga ada di dalam S, (k≥q).
Memahami pemikiran yang ada di balik
prinsip ini adalah penting. Langkah dasar secara eksplisit membuktikan bawa
P(q) adalah benar. Sebuah aplikasi langkah induksi dengan p=q menghasilkan
kebenaran untuk P(q+1). Setelah kita mnegetahui
kebenaran P(q+1), kita dapat mengaplikasikan lagi bentuk induksi untuk
memperoleh kebenaran P(q+2)dan seterusnya. Langkah induksi secara sederhana
mengatakan bahwa jika proses telah mencapai suatu taha, maka proses tersebut
akan melangkah ketahap selanjutnya. Tentu saja, proses haruslah diawali dan hal
tersebut merupakan fungsi dari langkah dasar. Langkah induksi mengasumsikan dalil
yang harus dibuktikan. Kita berupaya membuktikan kebenaran sejumlah kasusyang
tidak terhingga banyaknya, dan langkah induksi memperbolehkan kita untuk
mengasumsikan satu kasus sebelumnya untuk membuktikan satu kasus tertentu.
Untuk menjelaskan pemikiran ini, perhatikan contoh:
Misalkan akan dibuktikan suatu
pernyataan bahwa jumlah n bilangan asli pertama, yaitu 1+2+:::+n, adalah sama
dengan
.
Untuk membuktikan bahwa pernyataan itu
berlaku untuk setiap bilangan asli, langkah-langkah yang dilakukan adalah
sebagai berikut:
a. Menunjukkan
bahwa pernyataan tersebut benar untuk n = 1. Jelas sekali bahwa jumlah 1
bilangan asli pertama adalah
Jadi pernyataan tersebut adalah benar untuk n
= 1
b.
Menunjukkan bahwa jika pernyataan
tersebut benar untuk n = k, maka pernyataan tersebut juga benar untuk n = k+1.
Hal ini bisa dilakukan
dengan cara:
·
Mengasumsikan bahwa pernyataan tersebut
benar untuk n = k, yaitu:
1+ 2 + … + k =
·
Menambahkan k + 1 pada kedua ruas, yaitu:
1
+ 2 + … + k + (k + 1) =
+
(k+1)
·
Dengan menggunakan manipulasi aljabar,
diperoleh
+
(k+1) =
+
=
=
·
Dengan demikian
1
+ 2 + ::: + k + (k + 1) =
·
Jadi pernyataan tersebut benar untuk n =
k + 1.
c. Dengan
induksi matematika dapat disimpulkan bahwa pernyataan tersebut berlaku untuk
setiap bilangan asli n.
Conto
soal:
C.
Induksi
Matematika Kuat
Misalkan
bahwa P(n) adalah suatu pernyataan mengenai bilangan asli n dan bahwa q adalah
suatu bilangan asli tertentu. Untuk membuktikan bahwa P(n) adalah benar untuk
semua k≥q cukup dengan menunjukkan dua hal berikut:
a. Kasus
P(q) yang pertama adalah benar
b. Jika
k≥q dan kasus-kasus P(q),…P(k)
benar, maka kasus berikut yaitu P(k+1)
adalah benar.
Langkah
dasar, langkah induksi dan hipotesis induksi digunakan dalam cara yang jelas.
Langkah dasar menunjukkan bahwa P(q) adalah benar. Aplikasi dari langkah
induksi dengan k=q menghasilkan kebenaran untuk P(q+1). Sekarang, kita
mengetahui kebenaran P(q) dan P(q+1), kita dapat menerapkan langkah induksi
lagi untuk memperoleh P(q+2) dan seterusnya. Apabila langkah (1) dan (2) telah dilakukan
dengan benar, dapat disimpulkan bahwa P(n) benar untuk setiap bilangan asli n.
Perhatikan bahwa apabila langkah (2)
telah terbukti dan langkah (1) sudah ditunjukkan bahwa P(1) adalah benar, maka
akan diperoleh rangkaian pernyataan yang benar yaitu: P(1)→P(2) benar, P(2)→P(3) benar, P(3)→P(4) benar dan
seterusnya. Dengan demikian diperoleh bawa P(2) benar, P(3) benar, P(4) benar
dan seterusnya. Jadi P(n) benar untuk setiap bilangan asli n.
Kata kuat mengacu pada kenyataan
bahwa hipotesis induksinya mempunyai lebih banyak informasi dibanding dengan
informasi dari hipotesis induksi lemah. Sebenarnya dua bentuk induksi tersebut
adalah equivalen, karena masing-masing dapat diperoleh dari yang lainnya, dan
untuk suatu masalah yang ada, kita menggunakan bentuk yang paling tepat, dengan
kata lain prinsip induksi matematika kuat memungkinkan kita mencapai kesimpulan
yang sama meski pun memberlakukan asumsi yang lebih banyak.
Pada prinsipnya, induksi matematika
adalah metode pembuktian untuk membangun kesahihan pernyataan matematika yang
berhubungan dengan bilangan asli. Prinsip induksi matematika dibangun atas
suatu sifat fundamental himpunan bilangan asli, yang biasa disebut dengan Well Ondering Property. Well Ondering Property (WOP) menyatakan bahwa setiap himpunan
bilangan tidak kosong dari himpunan bilangan asli N mempunyai anggota terkecil.
Contoh soal
Bilangan
bulat positif disebut prima jika dan hanya jika bilangan bulat tersebut habis
dibagi dengan 1 dan dirinya sendiri. Kita ingin membuktikan bahwa setiap
bilangan bulat positif n (n ³ 2) dapat dinyatakan sebagai perkalian dari (satu
atau lebih) bilangan prima. Buktikan dengan prinsip induksi kuat.
Penyelesaian:
a. Basis
induksi. Jika n = 2, maka 2 sendiri adalah bilangan prima dan di sini 2 dapat
dinyatakan sebagai perkalian dari satu buah bilangan prima, yaitu dirinya
sendiri.
b. Langkah
induksi. Misalkan pernyataan bahwa bilangan 2, 3, …, n dapat dinyatakan sebagai
perkalian (satu atau lebih) bilangan prima adalah benar (hipotesis induksi).
Kita perlu menunjukkan bahwa n + 1 juga dapat dinyatakan sebagai perkalian
bilangan prima.
Ada dua
kemungkinan nilai n + 1:
a) Jika
n + 1 sendiri bilangan prima, maka jelas ia dapat dinyatakan sebagai perkalian
satu atau lebih bilangan prima.
b) Jika
n + 1 bukan bilangan prima, maka terdapat bilangan bulat positif a yang membagi
habis n + 1 tanpa sisa. Dengan kata lain, (n + 1)/ a = b atau (n +
1) = ab
Dalam hal ini, 2 £ a £ b £ n.
Menurut hipotesis induksi, a dan b dapat dinyatakan sebagai perkalian satu atau
lebih bilangan prima. Ini berarti, n + 1 jelas dapat dinyatakan sebagai
perkalian bilangan prima, karena n + 1 = ab.
Karena langkah (i) dan (ii)
sudah ditunjukkan benar, maka terbukti bahwa setiap bilangan bulat positif n (n
³ 2) dapat dinyatakan sebagai perkalian dari (satu atau lebih) bilangan prima.
Contoh soal
Buktikan
1 + 2 + 3 + . . . + n = ½ n (n + 1) untuk
setiap n bilangan asli.
Penyelesaian:
Pernyataan yang akan dibuktikan
adalah
1 + 2 + 3 + . . . + n =
½ n (n + 1)
a. Basis
induksi. Dengan demikian, P(1) adalah 1 = ½ .1.(1+1), P(2) = 1 + 2
=½.2.(2+1) dan seterusnya.
b. Untuk membuktikan pernyataan itu, perhatikan
bahwa P(1) adalah benar.
Kemudian, misalkan bahwa 1 + 2 +
3 + . . . + n = ½ n (n + 1) adalah benar, dan kita
harus membuktikan bahwa P(n+1) adalah benar. Untuk ini, kita tambahkan kedua
ruas pernyataan P(n) dengan (n + 1) dan diperoleh
1+ 2 + . . . + n + (n
+ 1) = ½ n (n+1) (n+1)
= ½ [n(n+1)+
2(n+1)]
= ½ (n2 + 3n
+ 2)
= ½ (n+1)( n
+2)
= ½ (n+1)[( n+1)+1]
Dari sini kita peroleh bahwa Pn+1
adalah benar. Hal ini menunjukkan bahwa pernyataan
1 + 2 + 3 + . . . + n =
½ n (n + 1)
adalah benar untuk setiap n bilangan
asli.
▷ Casino Site Review & Rating 2021 - ChoGroCasino
BalasHapusPlay at ChoGroCasino Casino. Our Casino Review ✚ Get the หาเงินออนไลน์ latest 2021 casino bonus codes and play now for 샌즈카지노 real money. 카지노